Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Apa yang Dimaksud Ilmu Pengetahuan Bersifat Rasional?

Selamat datang di situs Blogger Toraja.

Jika kita ditanya, apa itu ilmu pengetahuan? Maka harus dijawab bahwa ilmu pengetahuan sekurang-kurangnya harus memiliki 3 ciri berikut: rasional, metodis dan sistematis. Suatu pendekatan dapat dianggap ilmiah jika mempunyai 3 ciri tersebut.

Tapi belum tentu tiga ciri ini berperanan dengan cara yang sama dalam filsafat dan dalam ilmu-ilmu yang lain. Karena itu marilah kita mempelajari bagaimana ciri ini terwujud dalam ilmu-ilmu lain.

Nah yang akan Blogger Toraja bahas pertama adalah apa yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan harus bersifat rasional? Silahkan disimak pembahasannya berikut.

Ilmu Pengetahuan Harus Bersifat Rasional Artinya?

"Rasional" berarti "didasarkan pada rasio". Filsafat mulai di Yunani dengan ditemukannya rasio. Dengan menemukan filsafat orang Yunani kuno menemukan pemikiran rasional. Filsafat dalam bentuk modernpun berdasarkan atas rasio, sama seperti ilmu-ilmu lain.

Filsafat tidak didasarkan atas emosi atau perasaan, ada produk-produk kegiatan manusia yang tidak atau atau terutama bersifat rasional: musik, umpamanya, puisi atau tarian.  Tetapi filsafat tidak demikian sifatnya. Seperti ilmu-ilmu lain, filsafatpun selalu dan seluruhnya rasional.

Kalau filsafat bersifat rasional, secara konkret hal itu berarti apa? Dapat ditunjukkan empat alasan mengapa suatu pendekatan harus bersifat rasional, sbb:

  1. Apa yang bersifat rasional harus dapat dimengerti atau sekurang-kurangnya pada prinsipnya dapat dimengerti.
    Memang benar, daya tangkap dan daya berargumentasi setiap manusia tidak sama. Mungkin saya kebetulan terlalu bodoh, tetapi kalau begitu masih harus ada orang lain yang mengerti. Kalau sesuatu tidak bisa dimengerti oleh siapa pun, hal itu tidak bersifat rasional, melainkan irasional. Dalam bahasa Indonesia kita katakan juga, itu tidak masuk akal.
  2. Apa yang dikatakan berdasarkan rasio harus logis.
    Jalan pemikirannya harus sesuai dengan aturan-aturan logika. Banyak wacana yang berpretensi ilmiah, pada kenyataannya melanggar aturan-aturan logika.
  3. Apa yang berdasarkan rasio harus terbuka bagi kritik.
    Jika diajukan suatu uraian rasional, selalu bisa terjadi ada orang yang tidak setuju dengan apa yang dikatakan. Kalau begitu ia harus memberikan argumennya. Ia harus mengatakan mengapa ia tidak setuju. Apa yang kebal terhadap kritik manapun pasti tidak bersifat rasional. 
    Oleh sebab itu filsuf Autria-Inggris Karl Popper berpendapat bahwa psikoanalisis Sigmund Freud dan pengikut-pengikutnya tidak bersifat ilmiah, karea Freud berpretensi mengetahui alasan mengapa pada lawan bicara tidak setuju dengan dia. Dia katakan, misalnya mereka tidak setuju karena mempunyai frustasi, karena trauma psikis dari masa anak, atau alasan tak sadar lain. Dengan demikian psikoanalisis selalu benar. Disini tentu bukan tempatnya menyelidiki lebih lanjut pendapat Popper ini.
  4. Suatu uraian yang bersifat rasional bukan saja harus secara pasif terbuka terhadap kritik, tetapi harus juga menjalankan kritik secara aktif.
    Berfikir rasional dengan sendirinya berarti berfikir kritis. Kata "kritis" berasal dari kata Yunani krinein, yan berarti membedakan. Rupanya ahli asali ini masih membekas dalam kata kritik kita sekarang. Kritik memang tahu membedakan antara yang berdasar dan tidak berdasar, antara yang teruji dan tidak teruji. Pemikiran tidak patut disebut rasional kalau tidak ditandai dengan sikap kritis.
Sumber: Buku "Pengantar Filsafat" karangan K. Bertens, Johanis Ohoitimur, Mikhael Dua dan diterbitkan oleh PT Kanisius

Blogger Toraja
Blogger Toraja Anugerah terbesar adalah ketika kita memiliki kemampuan dan masih diberi kesempatan untuk berbagi kepada sesama walaupun itu hanya lewat ketikan keyboard
close